Selasa, 09 Juli 2013

The Black Point Shoot 2 Part 1


                                                Title              :        The Black Point
                                                Genre           :        Action-Romance, Comedy, Sad
                                                Rate             :         15+
                                                Leght            :        Seasons
                                                Cast              :  -     Lee Jimin
                                                                        -     Jung Sungha
                                                            -     Lee Jihyuk
                                                                        -     Lee Yong Gun
                                                Disclamer    :        Ini adalah FF action pertama yang       
                                                                               kubuat. Semoga suka ya ^^




^^Happy Reading^^
  



20 tahun kemudian...




“Hyaaaaa!!!!”, teriak Jimin sambil melempar sebuah gelas kaca yang ada di tangannya.
“Prang” Semua pecahan gelas berserakan di lantai.

                Perlahan ia jatuh tersengkur menahan semua amarah yang tersimpan di dalam hatinya. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya. Kejadian itu selalu saja menghantui pikirannya. Kejadian yang telah menghancurkan semua kebahagiaannya.
“Tok tok” Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.kamar

                Dengan cepat ia mengusap air matanya lalu bergegas membuka pintu.

“Ada apa?”, tanyanya pada seorang laki-laki yang berdiri di depannya.”Kita harus pergi bos. Kalau tidak Geng Devilish akan menertawakan kita”
“Hmm... Baiklah, ayo kita pergi”

                Dengan liar Jimin mengendarai motor melintasi jalan raya. Ia sangat menyukai kebebasan seperti ini. Tak hanya itu, ia juga suka melakukan kebiasaan layaknya seorang laki-laki seperti berkelahi, merokok, minum, dan sebagainya. Sejak kejadian itu kehidupannya berubah drastis. Sekarang, Jimin kecil telah menjelma menjadi kepala Geng The Bleast. Hampir seisi kota mengenali geng ini. Geng The Bleast memang terkenal sebagai  geng terhebat yang menguasa selrh penjuru kota. Tidak ada satupun yang bida mengalahkan kekuatan mereka.

                Di tengah perjalanan, ia berheni sejenak. Matanya terarah menyuuri celah lorong yang tampak dari arah jalan. Disana terlihat seorang preman bertubuh besar sedang menyodorkan sebuah pisau ke arah leher seorang pria yang berdiri di depannya.

 “Hey Kutu! Pergi kalian dari sini!”, teriak Jimin pada sederombilan preman itu.
”Apa kau bilang?! Kutu?!”
”Iya, kutu-kutu busuk!  Cepat singkirkan pisau itu atau akan kupatahkan leher kalian satu per satu!”
“Gadis ini.. Berani sekali! Rasakan!”

                Dengan penuh amarah para preman itu mendekati Jimin lalu balik mengarahkan pisau kepadanya. Dengan cepat Jimin menangkis serangan mereka lalu memukul para gerombolan preman itu satu per satu.

                Dari belakang pria tampan itu hanya terdiam sambil memandang kagum ke arah Jimin.

“Bos, dia kuat juga”, bisik salah satu preman setelah semuanya jatuh terduduk lemas di atas tanah.
“Bagaimana?! Kalian masih berani?! Atau kalian akan tetap melawan sampai alian mati?!”, teriak Jimin marah sambil menarik kerah baju seorang pria yang menjadi pemimpin preman-preman tersebut.
“Cepat Pergi! Kau pasti tahu Geng The Bleast. Kau tidak ingin otakmu tercerai-berai hanya karena masalah ini, kan?!”, bisik Jimin di telinga preman itu.

                Seketika mata preman itu terbelalak mendengar ucapan Jimin. Dengan cepat mereka pergi melarikan diri.

”Kau tak apa?”, tanya Jimin pada pria tampan itu.”
“Iya. Aku baik-baik saja. Terimakasih”, ucap pria tapan itu tak berhenti memandang kagum ke arah Jimin.
“Hmm.. Baiklah. Disini memang rawan. Berhati-hatilah atau kau akan terbunuh”

                Jiminpun bergegas pergi meninggalkan pria tersebut.

“Tunggu!”
“Hmm?”
 “Boleh aku membalas kebaikanmu?”
“Sudahlah. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu”
“Tidak. Mengertilah... Atau aku akan terus-menerus merasa berutang budi padamu”
“Hmm... Baiklah jika kau memaksa. Tunggu aku di taman kota. Aku akan datang dua jam lagi”
“Baik. Terimakasih!”




Jimin POV


                Dasar preman pasar! Sudah berapa kali diancam tapi masih ada saja yang bertindak kriminal seperti itu.  Pria itu juga, kenapa bisa dia ada disini? Dia memang tampan, tapi yang benar saja dia harus berdiam diri seperti iyu? Hahaha.. Bnar-benar konyol! Dengan tambahan mini dress dia pasti dikira perempuan. Hahaha...

                 Kunyalakan motorku lalu bergegas pergi melajutkan perjalanan. Setelah sampai disana, kulihat banyak anggota Geng Devilish telah siap bertarung dengan kami.

“Bos, kau kemana saja? Kita hampir saja diremehkan oleh mereka”
“Aiss.. Kau ini cerewet sekali. Ayo, kita bereskan mereka semua!”
“Hei kalian!! Masih berani kalian datang kesini? Dan kau! Kenapa tidak memasak saja di rumah?! Kau benar-benar yakin bisa mengalahkan kami, hah?!”, ucap pemimpin Geng Devilsh sambil menunjuk ke arahku.
“Jangan banyak omong kosong atau kau akan kami buat ketakutan hingga celanamu basah, hah?!”
“HAHAHA” Semua anggota gengkupun tertawa.
“Apa kau bilang? Kurang ajar! Hajar mereka semua!”

                Pertarunganpun dimulai. Satu per satu lawan mulai menyerang ke arahku. Pukulan demi pukulan selalu berhasil kutangkis. Dengan kesal aku menghajar mereka sampai mereka semua menyerah dan terbaring lemas di atas tanah.

                Saat aku berbalik badan, tiba-tiba ada satu pukulan yang berhasil mengenai pipiku.

“Ah”, ucapku kesakitan sambil mengusap pipiku.

                Terlihat darah yang mengalir dari sudut pipiku. Dengan penuh amarah aku menarik kerah bajunya. Seketika raut wajahnya dipenuhi rasa takut. Dengan kesal kutarik lengannya lalu kupelintir hingga ia meringis kesakitan.

“Sudah! Cukup!”, ucap pemimpin mereka.
“Bagaimana? Apa kalian masih mau melawan kami, hah?!”
“Semuanya! Ayo kita pergi!”, ucapnya ketakutan lalu bergegas pergi..
“HAHAHA”, tawa puas semua anggota gengku.
“Bos, kau memang hebat. Ita emag tidak pernah bisa terkalahkan”
“Hahaha. Mereka itu seperti nyamuk. Sekali tepis saja langsung mati”
“Bos, Ayo kita rayakan kemenangan kita”

                Seketika terlintas dibenakku tentang janji yang telah aku buat dengan pria konyol itu.

“Tidak. Aku tidak bisa. Kalian saja”
“Tapi bos. Bagaimana bisa kami merayakannya tanpamu”
“Ah! Sydahlah! Kalau aku bilang tidak bisa ya tidak bisa! Jangan banyak tanya! Itu bukan urusanmu!”, bentakku mengagetkan mereka.
“I-iya. Baik bos”, ucapnya ketakutan.

***


Mr. X (Pria Konyol) POV

                Dasar preman sial! Kalau tidak untuk menjaga imageku pasti sudah kuhabisi mereka semua! Untung saja ada wanita itu. Hahaha.. Wanita itu... Benar-benar wanita aneh... Wajahnya memang cantik sih, tapi penampilannya berantakan sekali. Baju yang sedikit lusuh ditambah dengan celana compang-camping. Belum lagi ucapannya juga kasar. Benar-benar berbeda... Sepertinya dia lebih cocok menjadi laki-laki. Hahaha..

“Hei konyol! Kau benar-benar datanng kesini, ya?”, teriaknya dari kejauhan.

                Apa? Konyol? Benar-benar ucapannya... Heeeeeh...

“Kau sendiri kenapa datang kesini?”
“Aku memang datang kesini setiap hari”
“Waah.. Es krimnya mencair ya”, ucapnya sambil memandang ke arah es krim yang kupegang.
“Kau lama sekali.. Es krim ini hampir saja habis karenamencair”
“Hahaha. Bilang saja kau tidak sabar mau memakannya.. Tidak bisa! Ini bayaran untukku, kan?”
Dengan berani ia langsung mengambil salah satu es krim yang ada di tanganku.
               
                Aiss... Wanita ini... Seenaknya saja langsung mengambil es krimku. Eh, kenapa wajahnya? Apa dia habis berkelahi?

“Kenapa? Haa... Kau bingung dengan penampilanku, ya? Sudah biasa...”
“Tidak. Kenapa bibirmu?”, ucapku sambil menunjuk ke arah sudut bibirku.
“Apa? Ini? Hehee... Aku habis berkelahi..”

                YAAAA!!! Berkelahi?! Yang benar saja ada wanita yang suka berkelahi?!

“Hmm.. Sekali lagi terimakasih ya sudah menolongku”
“Iya, sama-sama. Itu memang sudah tugasku. Oh iya, kenapa kau diam saja diperlakukan seperti itu? Heee... Memang sih, wajahmu manis.. Hmm... Jika kau pakai rok mini, pasti kau dikira perempuan. Hahaha”
“Heeeh.. Kau hanya tidak tahu apa-apa. Eem.. Apa kau tahu Sungha Jung?”
“Siapa? Sung-ha Jung? Haruskah aku mengenalnya?”
“Jadi, kau benar-benar tidak tahu? Astaga...”
“Hahaha”
“Kenapa tertawa?”
“Ada es krim di sudut bibirmu”

                Dengan berani, ia mengambil es krim yang ada di sudut bibirku lelu menjilatinya.

“Dag.. Dig.. Dug...”

                Astaga... Kenapa jantungku? Tidak, tidak mungkin!

“Es krim vanila enak juga, ya. Hmm.. Es krimku sudah habis. Berarti urusan kita sudah selesai. Baiklah, sampai jumpa”, ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkanku.

                Wanita itu... Setelah membuatku jadi seperti ini seenaknya saja dia pergi.

“T-tunggu!”, cegatku menghalanginya.
“Minggirlah.. Sebelum aku marah..”

                A-apa? Ya ampun.. Dia kasar sekali...

                Dengan terpaksa aku menyingkir dan membiarkannya pergi.



***



@Jimin house


“Huft”, desahku sambil membuka pintu.

                Dari dalam rumah terlihat Jihyuk oppa sedang duduk sambil asyik bertautan dengan laptop kesayangannya. Kenapa dia pulang cepat sekali? Apa dia sudah bosan mengurusi perusahaan ayah?

“Jimin, kau dari mana saja, hah?”
“Bukan urusan oppa!”
“Kau berkelahi lagi ya?
“Sudah jangan campuri urusanku!”
“Baiklah.. Oppa tidak akan mencampuri urusanmu. Terserah.. Lakukan saja apa yang kau suka. Tapi kau harus ingat dengan misi kita, hah?”
“Iya, aku tahu. Kenapa oppa pulang cepat sekali?”
“Ada yang ingin oppa tunjukkan padamu. Kemarilah”

                Dengan rasa penasaran akupun menghampirinya.
”Hmm?”
“Tadi oppa dapat rekaman video dari pusat CCTV. Ini video 20 tahun yang lalu saat pesta ulang tahunmu. Coba kau lihat orang ini”, ucap Jihyuk oppa sambil mengarahkan laptopnya ke arahku.”Iya.. Dia pegang senjata! Pasti dia pelakunya!”
“Oppa juga pkir seperti itu”
“Ya.. Kita harus cari orang dengan ciri-ciri seperti itu. Oke, esok aku akan bertanya dengan orang-orang disekitar gedung tempat pesta ulang tahunku dulu”
“Ya. Oppa juga akan cari identitas orang ini”
“Lihat saja.. Kalau ketemu akan kupenggal kepalanya. Takkan kubiarkan dia hidup begitu saja”




***


Esok harinya....



Author POV


                Di pagi buta saat matahari masih enggan menampakkan sinarnya, terlihat seorang wanita dengan penampilan sepeti laki-laki sedang berjalan melintasi jalan raya. Matanya menangkap sebuah bangunan yang menyimpan semua kepahitannya di masa lalu.
“Ayah”, ucapnya sampil mengepalkan tanggannya, berusaha menahan semua rasa dendam yang tersimpan di dalam hatinya.

                Denga langkah gontai ia mencoba kembali melangkah. Seketika pandangannya tertuju pada sebuah toko yang terletak tepat di sebelah gedung tersebut. Ia pun mencoba untuk masuk ke dalamnya.

“Permisi”, ucapnya pada salah satu penjual toko tersebut.
“Iya? Apa ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf jika saya mengganggu. Boleh saya bertanya? Apa bibi pernah melihat orang seperti ini sedang berjalan di sekitar sini dekitar 20 tahun yang lalu?”, ucap Jimin sambil menunjukkan sebuah foto kepadanya.
“20 tahun yang lalu? Hmm.. Rasanya tidak pernah”
“Co-coba bibi ingat-ingat lagi”

                Sambil menutup mata, bibi itu mencoba menangap seseorang dengan ciri-ciri tersebut di dalam ingatanya.

“Tidak. Saya yakin tidak perah melihat orang ini”
“Benarkah? Hmm.. Baiklah. Terimakasih ya bi”

                Tanpa putus asa Jimin mencoba bertanya kembali ke semua orang yang ada di sekitar gedung tersebut. Namun, hasilnya sama.. Ia tetap tidak mendapat informasi apapun. Dirasakannya sinar terik matahari hampir membakar kulitnya. Dengan berat hati iapun memutuskan untuk menghentikan pencariannya di tempat tersebut.   



***


Jimin POV


                Seperti biasa, setelah lelah berkeliling seharian aku pergi ke taman untuk mengistirahatkan diri. Akupun membeli secangkir es cappuchino untuk sekedar menghilangkan rasa hausku. Kujangkau sebuahkursi yang ada disana. Seketika rasa penatku hilang saat aku duduk disini. Tempat ini adalah tempat paling menyenangkan yang sering kudatangi.

                Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang laki-laki sedang berjalan ke arahku.

“Hei!”, panggilnya sambil melambaian tangan ke arahku.

                Astaga... Pria konyol itu.. Untuk apa dia datang kemari? Bukannya urusanku dengannya sudah selesai?

“Ada apa? Bukannya urusan kita sudah selesai?”
“Hmm.. Iya.. Aku hanya ingin melihatmu”

                A-apa? Dia ingin melihatku? Benar-benar konyol!

“Hmm.. Sekarang kau sudah melihatku, kan? Pergilah!”
“Tidak mau. Aku akan pergi setelah aku mendapat alasannya”
“Baiklah.. Kalau kau tidak mau pergi biar aku yang akan pergi”, ucapku lalu melangkahkan kakiku.
“T-tunggu!”

                Tanpa menghiraukannya, aku tetap bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.



***


                Dasar! Pria Konyol!!! Sampai kapan ia akan terus mengikitiku seperti ini?

“Hei, sebenarnya apa maumu, hah?”
“Jadilah temanku”
“Apa? Teman? Jangan bercanda..”
“ Baiklah, kalau begitu aku akan terus mengikutimu”

                Heeh.. Benar-benar menyebalkan!

“Hmm.. Baiklah.. Kita berteman”

                Sambil menghela napas aku melangkahkan kakiku kembali menuju ke sebuah kursi. Tanpa rasa takut, dengan berani ia duduk di sampingku.

“Apa kau tak takut denganku, hah?”  
“Tidak”
“Kenapa? Bukannya orag sepertiku biasanya suka memeras oran sepertimu?”
“Iya, aku tahu. Tapi untukmu sepertinya tidak mungkin”
“Hmm.. Terserah padamu saja”
“Siapa namamu?”
“Untuk apa kau tahu namaku?”
“Aiss.. Kau galak sekali.. Aku hanya ingin tahu siapa namamu”
“Itu bukan urusanmu!”
“Tidak. Ini urusanku. Kau harus tanggun jawab padaku!”
“Hah? Tanggung jawab? Kau mabuk, ya? Sejak kapan aku berbuat macam-macam padamu?”
“Sejak kau mengambil es krim di sudut bibirku”

                Hah? Pria ini benar-benar tidak ada rasa takut. Berani-beraninya dia berkata seperti itu.

“Kau gila, hah?” Dengan marah kuacungkan tanganku bersiap akan memukulnya.

                Dasar pria bodoh! Kenapa diam saja? Aiss...

“Hmm.. Namaku Lee Jimin”, ucapku menyerah lalu menurunkan tanganku.”Lee Jimin.. Hmm.. Nama yang bagus”
“Kau benar-benar ingin kupukul, hah?”
“T-tidak. Jangan pukul aku, Minie”
“Jangan panggila aku Minnie!”
“Iya, Jimin”

                Hmm.. Benar-benar orang itu.. Sydah berapa kali kuancam tapi masih saja mendekatiku. Mau-maunya duduk di sampingku terus seperti ini. Dasar aneh!

“Hmm.. Sudah waktunya aku pulang”
“Apa? Pulang? Orang sepertimu ternyata bisa juga pulang cepat”
“Kau mau kupukul, hah?”
“Tidak, Minie. Aku hanya bercanda”
“Berhenti”, ucapku kembali mengacungkan tanganku”
“I-iya, Jimin. Baiklah.. Sampai jumpa lagi! Terimakasih untuk hari ini”

                Terimakasih? Hah, dasar aneh!

                Tanpa menghiraukannya ak bergegas pergi pulang ke rumah.


@Jimin House



Author POV


                Bulanpun menyapa, bertanda malam telah tiba. Dari luar jendela terlihat satu per satu daun mulai berguguran. Udara dingin yangmasuk dari celah-celah rumah mulai mengalir di seluruh tubuh. Tangan Jimin terulur untuk meraih sebuah cangir yang ada di dalam lemari. Ditambahkannya sesendok kopi bubuk dan dua sendok gula pasir lalu dituangkannya air hangat ke dalam cangkir. Uap panas dari secangkir kopi memberi kehangatan di tubuh Jimin. Perlahan ia berjalan dan duduk di atas kursi.

“Klek”

Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Jihyukpun masuk dan duduk di samping Jimin. Bibirnya gemetar bersama dengan uap yang berhembus dari mulutnya.

“Oppa kedinginan?”, tanya Jimin khawatir.
“Hi-hiya”

                Dengan wajah tanpa dosa Jihyuk meraih secangkir kopi yang Jimin pegang lalu habis meminumnya.

                Dengan cepat Jimin mengambil bsebuah baju tebal dan bergegas menghangatkan air.

“Ini”, ucap Jimin sambil memberikan baju tebal tersebut kepada kakaknya.
“Terimakasih, Jimin kecilku”, ucap Jihyuk sambil mengelus lembut rambut Jimin.
“Berhenti memanggilku Jimin kecil! Aku sedah besar, kau tah kan?!” , ucap Jimin sambil menghempaskan tangan kakaknya.
“Aiss.. Kau kasar sekali.. Hmm.. Duduklah. Ada yang indin oppa ceritakan padamu”
“Hmm?”
“Tadi ada yang menelepon oppa. Dia bilang dia sepertinya mengenali ciri-ciri pembunuh itu”
“Benarkah? Dia tinggal dimana?”
”Di sekitar gedung tempat pestamu dulu”
“Oh iya.. Waktu itu aku berpesan ke semua orang disekitar situ untuk menghubungiku”
“Hmm.. Kalau begitu, datanglah kesana besok, ya”
“Iya.. Aku akan kesana. Lalu, apa rencana oppa?”
“Oppa akan bertanya pada teman-teman ayah yang menghadiri pesta tersebut”
“Baiklah. Sebentar lagi kita akan menangkap pelaku itu..”




***



Esok harinya...



Jimin POV

               

Dengan tidak sabar, aku bergegas pergi menuju tempat kejadian itu lagi. Kulihat satu per satu rumah yang ada di sekitar sana. Mataku menangkap sebuah bangnan dengan nomor yang sama dengan nomor yang tertera di kertas alamat yang kupegang. Dengan cepat aku menandatangani rumah tersebut.

“Tok tok”
“Iya?”, ucap seorang wanita  paruh baya sambil membuka pintu.        
“Bibi yang kemarin menelepon ke nomorku, kan?”
“Oh, iya iya. Silahkan duduk”
“Bi, apa bibi benar-benar tahu dengan orang ini?”, ucapku sambil menunjukka sebuah foto padanya.
“Hah? Ternyata orangnya seperti ini? Kalau begini bibi tidak lihat”
“A-apa maksud bibi?”
“Waktu itu bibi juga melihat orang aneh berjalan di sekitar gedung itu. Tapi, tidak dengan penampilan mewah seperti ini. Dia bahkan lebih terlihat seperti seorang preman”
“Apa? Jadi.. Bibi tidak melihatnya?”
“Iya.. Maaf ya...”
“Iya”

                Seketika hatiku seperti akan terjatuh. Denga langkah gontai aku melangkah pergi mennggalkan tempat itu.

“Ayah.. Hiks”

                Perlahan air mataku mengalir membasahi pipiku. Benar-benar menyakitkan... Harus berapa lama lagi aku mencarinyaaa?

                Hatiku menuntunku menuju ke taman kota. Mungkin aku perlu menjernihkan pikiranku dulu. Kubeli secangkir es cappuchino lalu duduk di sebuah kursi yang biasa kutempati.

                Dari kejauhan terlihat pria konyol itu sedang berjalan ke arahku.

“Mini!”, panggilnya sambil melambaikan tangan.

                Benar-benar orang itu.. sepertinya dia mau kupukul dulu baru pergi.

“Sampai kapan kau akan terus datang kesini, hah?”
“Sampai aku... Eh, kau habis menangis?”
“Tidak! Jangan sentuh aku!”

                Tanpa rasa takut ia duduk disampingku.
“Baiklah. Aku akan menghiburmu”
“Tidak perlu. Aku tak butuh hiburamu!”
“Kau yakin? Mau taruhan denganku? Jika aku bisa membuatmu tertawa kau harus penuhi perintahku, ok?”

                Apa? Pria konyol ini mau menantangku? Hahaha.. Tidak mungkin!

“Baiklah. Kau pasti akan ikuti perintahku”
“Hmm.. Coba tebak! Bentuknya kecil, warnanya hitam, kalau disentuh dia bisa memukul. Apa itu?”
“Siapa dia? Apa dia juga berani memukulku”
“Hmm.. Mungkin”
“Siapa? Tidak tahu”
“Kotoran lalat milik preman”
“Bah, jadi maksudmu kau mau menyentuh kotoran lalat preman waktu itu, hah?”
“Boleh jadi”
“Humph” Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menahan tawa.
“Kau tertawa, kan?”
“Ti... Dak..”, ucapku sambil mengerucutkan bibirku.
“Baiklah.. Sekali lagi.. Kau pasti tertawa”
“Siapa takut? Coba saja kau pasti gagal”
“Hmm.. Warna putih, hitam, hijau. Apa itu”
“Hmm.. Lampu lalu lintas!”
“Heeh.. Itu merah, kuning, hijau, bodoh!”
“Mm.. iya.. Maksudku itu..”
“Heeh.. Dasar! Jadi apa?”
“Tidak tahu”
“Jimin sedang pup di atas rumput”
“Bah? Kau pikir aku tukang pup? Hahahahaha”
“Kau tertawa, kan?”
“Ti-tidak.. Hahahahaha”
“Syukurlah.. Emm, kau harus penuhi perintahku!”
“A-apa?”
“Kau harus terima jika kupanggil Minie”
“Tidak mau! Panggilan konyol!”
“Hey, itu nama yang lucu..”
“Tidak!”
“Minie..”
“Berhentilah..”
“Minie <3”
“Berhenti memanggilku Minie!”    

                Dengan kesal kulempar satu sepatuku ke arahnya. Sambil menyengir kuda ia bergegas pergi melarikan diri.

“Hhhhh”, desahku panjang setelah berhasil menangkapnya.
“Minie, ayo kita jalan kesana”, ajaknya sambil menarik tanganku.

                Kamipun melanjutkan kembali perjalanan kami di sekitar taman itu.

“Hei, kenapa mereka melihati kita seperti itu?”
“Karena kau unik”
“Kau mengejek, hah?”
“Tidak.. Hanya bercanda”

                Tiba-tiba datang segerombolan anak berjalan ke arah kami. Terlihat seorang anak sedang mengarahkan sebuah pistol air ke salah satu anak lainnya. Seketika kejadian penembakan itu kembali menghantuiku.
“Haaaaa!!!”, jeritku ketakutan.
“Ada apa Jimin?”, taya pria konyol itu cemas sambil memelukku.
“Baiklah.. Ayo kita pergi dari sini”

                Perlahan dia menuntunku menuju ke sebuah kursi.
“Ceritakan padaku apa yang terjadi”
“Pistol itu yang membunuh ayah..”, ucapku tanpa sadar.
“Itu hanya pistol mainan.. Sudahlah.. Jangan pikirkan itu lagi, ya?”, ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.
“Dag.. Dig.. Dug..” Kenapa jantungku jadi seperti ini?
Dia.. Hangat.. Seperti ayah dan kakak. Entah mengapa... Rasa cemasku seketika hilang saat bersamanya..




The  Black Point Shoot 2 Part 1 - End                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar