Title
: The
Black Point
Genre
:
Action-Romance, Comedy, Sad
Rate
: 15+
Leght
:
Seasons
Cast
: - Lee Jimin
- Jung Sungha
- Lee Jihyuk
- Lee Yong Gun
Disclamer
: Ini adalah FF action pertama
yang
kubuat. Semoga suka ya ^^
^^Happy Reading^^
20 tahun kemudian...
“Hyaaaaa!!!!”, teriak Jimin sambil melempar sebuah gelas
kaca yang ada di tangannya.
“Prang” Semua pecahan gelas berserakan di lantai.
Perlahan
ia jatuh tersengkur menahan semua amarah yang tersimpan di dalam hatinya.
Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya. Kejadian itu selalu saja
menghantui pikirannya. Kejadian yang telah menghancurkan semua kebahagiaannya.
“Tok tok” Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari
luar.kamar
Dengan
cepat ia mengusap air matanya lalu bergegas membuka pintu.
“Ada apa?”, tanyanya pada seorang laki-laki yang berdiri di
depannya.”Kita harus pergi bos. Kalau tidak Geng Devilish akan menertawakan kita”
“Hmm... Baiklah, ayo kita pergi”
Dengan
liar Jimin mengendarai motor melintasi jalan raya. Ia sangat menyukai kebebasan
seperti ini. Tak hanya itu, ia juga suka melakukan kebiasaan layaknya seorang
laki-laki seperti berkelahi, merokok, minum, dan sebagainya. Sejak kejadian itu
kehidupannya berubah drastis. Sekarang, Jimin kecil telah menjelma menjadi
kepala Geng The Bleast. Hampir seisi
kota mengenali geng ini. Geng The Bleast
memang terkenal sebagai geng
terhebat yang menguasa selrh penjuru kota. Tidak ada satupun yang bida
mengalahkan kekuatan mereka.
Di
tengah perjalanan, ia berheni sejenak. Matanya terarah menyuuri celah lorong
yang tampak dari arah jalan. Disana terlihat seorang preman bertubuh besar
sedang menyodorkan sebuah pisau ke arah leher seorang pria yang berdiri di
depannya.
“Hey Kutu! Pergi
kalian dari sini!”, teriak Jimin pada sederombilan preman itu.
”Apa kau bilang?! Kutu?!”
”Iya, kutu-kutu busuk!
Cepat singkirkan pisau itu atau akan kupatahkan leher kalian satu per
satu!”
“Gadis ini.. Berani sekali! Rasakan!”
Dengan
penuh amarah para preman itu mendekati Jimin lalu balik mengarahkan pisau kepadanya.
Dengan cepat Jimin menangkis serangan mereka lalu memukul para gerombolan
preman itu satu per satu.
Dari
belakang pria tampan itu hanya terdiam sambil memandang kagum ke arah Jimin.
“Bos, dia kuat juga”, bisik salah satu preman setelah
semuanya jatuh terduduk lemas di atas tanah.
“Bagaimana?! Kalian masih berani?! Atau kalian akan tetap
melawan sampai alian mati?!”, teriak Jimin marah sambil menarik kerah baju
seorang pria yang menjadi pemimpin preman-preman tersebut.
“Cepat Pergi! Kau pasti tahu Geng The Bleast. Kau tidak ingin otakmu tercerai-berai hanya karena
masalah ini, kan?!”, bisik Jimin di telinga preman itu.
Seketika
mata preman itu terbelalak mendengar ucapan Jimin. Dengan cepat mereka pergi
melarikan diri.
”Kau tak apa?”, tanya Jimin pada pria tampan itu.”
“Iya. Aku baik-baik saja. Terimakasih”, ucap pria tapan itu
tak berhenti memandang kagum ke arah Jimin.
“Hmm.. Baiklah. Disini memang rawan. Berhati-hatilah atau
kau akan terbunuh”
Jiminpun
bergegas pergi meninggalkan pria tersebut.
“Tunggu!”
“Hmm?”
“Boleh aku membalas
kebaikanmu?”
“Sudahlah. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main
denganmu”
“Tidak. Mengertilah... Atau aku akan terus-menerus merasa
berutang budi padamu”
“Hmm... Baiklah jika kau memaksa. Tunggu aku di taman kota.
Aku akan datang dua jam lagi”
“Baik. Terimakasih!”
Jimin POV
Dasar preman pasar! Sudah berapa
kali diancam tapi masih ada saja yang bertindak kriminal seperti itu. Pria itu juga, kenapa bisa dia ada disini?
Dia memang tampan, tapi yang benar saja dia harus berdiam diri seperti iyu?
Hahaha.. Bnar-benar konyol! Dengan tambahan mini dress dia pasti dikira
perempuan. Hahaha...
Kunyalakan motorku lalu bergegas pergi
melajutkan perjalanan. Setelah sampai disana, kulihat banyak anggota Geng Devilish telah siap bertarung
dengan kami.
“Bos, kau kemana saja? Kita hampir saja diremehkan oleh
mereka”
“Aiss.. Kau ini cerewet sekali. Ayo, kita bereskan mereka
semua!”
“Hei kalian!! Masih berani kalian datang kesini? Dan kau! Kenapa
tidak memasak saja di rumah?! Kau benar-benar yakin bisa mengalahkan kami,
hah?!”, ucap pemimpin Geng Devilsh sambil
menunjuk ke arahku.
“Jangan banyak omong kosong atau kau akan kami buat
ketakutan hingga celanamu basah, hah?!”
“HAHAHA” Semua anggota gengkupun tertawa.
“Apa kau bilang? Kurang ajar! Hajar mereka semua!”
Pertarunganpun
dimulai. Satu per satu lawan mulai menyerang ke arahku. Pukulan demi pukulan
selalu berhasil kutangkis. Dengan kesal aku menghajar mereka sampai mereka
semua menyerah dan terbaring lemas di atas tanah.
Saat
aku berbalik badan, tiba-tiba ada satu pukulan yang berhasil mengenai pipiku.
“Ah”, ucapku kesakitan sambil mengusap pipiku.
Terlihat
darah yang mengalir dari sudut pipiku. Dengan penuh amarah aku menarik kerah
bajunya. Seketika raut wajahnya dipenuhi rasa takut. Dengan kesal kutarik
lengannya lalu kupelintir hingga ia meringis kesakitan.
“Sudah! Cukup!”, ucap pemimpin mereka.
“Bagaimana? Apa kalian masih mau melawan kami, hah?!”
“Semuanya! Ayo kita pergi!”, ucapnya ketakutan lalu bergegas
pergi..
“HAHAHA”, tawa puas semua anggota gengku.
“Bos, kau memang hebat. Ita emag tidak pernah bisa
terkalahkan”
“Hahaha. Mereka itu seperti nyamuk. Sekali tepis saja
langsung mati”
“Bos, Ayo kita rayakan kemenangan kita”
Seketika
terlintas dibenakku tentang janji yang telah aku buat dengan pria konyol itu.
“Tidak. Aku tidak bisa. Kalian saja”
“Tapi bos. Bagaimana bisa kami merayakannya tanpamu”
“Ah! Sydahlah! Kalau aku bilang tidak bisa ya tidak bisa!
Jangan banyak tanya! Itu bukan urusanmu!”, bentakku mengagetkan mereka.
“I-iya. Baik bos”, ucapnya ketakutan.
***
Mr. X (Pria Konyol)
POV
Dasar preman sial! Kalau tidak
untuk menjaga imageku pasti sudah kuhabisi mereka semua! Untung saja ada wanita
itu. Hahaha.. Wanita itu... Benar-benar wanita aneh... Wajahnya memang cantik
sih, tapi penampilannya berantakan sekali. Baju yang sedikit lusuh ditambah
dengan celana compang-camping. Belum lagi ucapannya juga kasar. Benar-benar
berbeda... Sepertinya dia lebih cocok menjadi laki-laki. Hahaha..
“Hei konyol! Kau benar-benar datanng kesini, ya?”, teriaknya
dari kejauhan.
Apa? Konyol? Benar-benar ucapannya...
Heeeeeh...
“Kau sendiri kenapa datang kesini?”
“Aku memang datang kesini setiap hari”
“Waah.. Es krimnya mencair ya”, ucapnya sambil memandang ke
arah es krim yang kupegang.
“Kau lama sekali.. Es krim ini hampir saja habis
karenamencair”
“Hahaha. Bilang saja kau tidak sabar mau memakannya.. Tidak
bisa! Ini bayaran untukku, kan?”
Dengan berani ia langsung mengambil salah satu es krim yang
ada di tanganku.
Aiss... Wanita ini... Seenaknya saja
langsung mengambil es krimku. Eh, kenapa wajahnya? Apa dia habis berkelahi?
“Kenapa? Haa... Kau bingung dengan penampilanku, ya? Sudah
biasa...”
“Tidak. Kenapa bibirmu?”, ucapku sambil menunjuk ke arah
sudut bibirku.
“Apa? Ini? Hehee... Aku habis berkelahi..”
YAAAA!!! Berkelahi?! Yang benar saja ada
wanita yang suka berkelahi?!
“Hmm.. Sekali lagi terimakasih ya sudah menolongku”
“Iya, sama-sama. Itu memang sudah tugasku. Oh iya, kenapa
kau diam saja diperlakukan seperti itu? Heee... Memang sih, wajahmu manis..
Hmm... Jika kau pakai rok mini, pasti kau dikira perempuan. Hahaha”
“Heeeh.. Kau hanya tidak tahu apa-apa. Eem.. Apa kau tahu
Sungha Jung?”
“Siapa? Sung-ha Jung? Haruskah aku mengenalnya?”
“Jadi, kau benar-benar tidak tahu? Astaga...”
“Hahaha”
“Kenapa tertawa?”
“Ada es krim di sudut bibirmu”
Dengan
berani, ia mengambil es krim yang ada di sudut bibirku lelu menjilatinya.
“Dag.. Dig.. Dug...”
Astaga... Kenapa jantungku? Tidak, tidak
mungkin!
“Es krim vanila enak juga, ya. Hmm.. Es krimku sudah habis.
Berarti urusan kita sudah selesai. Baiklah, sampai jumpa”, ucapnya lalu
melangkah pergi meninggalkanku.
Wanita itu... Setelah membuatku jadi
seperti ini seenaknya saja dia pergi.
“T-tunggu!”, cegatku menghalanginya.
“Minggirlah.. Sebelum aku marah..”
A-apa? Ya ampun.. Dia kasar sekali...
Dengan
terpaksa aku menyingkir dan membiarkannya pergi.
***
@Jimin house
“Huft”, desahku sambil membuka pintu.
Dari
dalam rumah terlihat Jihyuk oppa sedang duduk sambil asyik bertautan dengan
laptop kesayangannya. Kenapa dia pulang cepat sekali? Apa dia sudah bosan
mengurusi perusahaan ayah?
“Jimin, kau dari mana saja, hah?”
“Bukan urusan oppa!”
“Kau berkelahi lagi ya?
“Sudah jangan campuri urusanku!”
“Baiklah.. Oppa tidak akan mencampuri urusanmu. Terserah..
Lakukan saja apa yang kau suka. Tapi kau harus ingat dengan misi kita, hah?”
“Iya, aku tahu. Kenapa oppa pulang cepat sekali?”
“Ada yang ingin oppa tunjukkan padamu. Kemarilah”
Dengan
rasa penasaran akupun menghampirinya.
”Hmm?”
“Tadi oppa dapat rekaman video dari pusat CCTV. Ini video 20
tahun yang lalu saat pesta ulang tahunmu. Coba kau lihat orang ini”, ucap
Jihyuk oppa sambil mengarahkan laptopnya ke arahku.”Iya.. Dia pegang senjata!
Pasti dia pelakunya!”
“Oppa juga pkir seperti itu”
“Ya.. Kita harus cari orang dengan ciri-ciri seperti itu.
Oke, esok aku akan bertanya dengan orang-orang disekitar gedung tempat pesta
ulang tahunku dulu”
“Ya. Oppa juga akan cari identitas orang ini”
“Lihat saja.. Kalau ketemu akan kupenggal kepalanya. Takkan
kubiarkan dia hidup begitu saja”
***
Esok harinya....
Author POV
Di pagi
buta saat matahari masih enggan menampakkan sinarnya, terlihat seorang wanita
dengan penampilan sepeti laki-laki sedang berjalan melintasi jalan raya.
Matanya menangkap sebuah bangunan yang menyimpan semua kepahitannya di masa
lalu.
“Ayah”, ucapnya sampil mengepalkan tanggannya, berusaha
menahan semua rasa dendam yang tersimpan di dalam hatinya.
Denga
langkah gontai ia mencoba kembali melangkah. Seketika pandangannya tertuju pada
sebuah toko yang terletak tepat di sebelah gedung tersebut. Ia pun mencoba
untuk masuk ke dalamnya.
“Permisi”, ucapnya pada salah satu penjual toko tersebut.
“Iya? Apa ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf jika saya mengganggu. Boleh saya bertanya? Apa bibi
pernah melihat orang seperti ini sedang berjalan di sekitar sini dekitar 20
tahun yang lalu?”, ucap Jimin sambil menunjukkan sebuah foto kepadanya.
“20 tahun yang lalu? Hmm.. Rasanya tidak pernah”
“Co-coba bibi ingat-ingat lagi”
Sambil
menutup mata, bibi itu mencoba menangap seseorang dengan ciri-ciri tersebut di
dalam ingatanya.
“Tidak. Saya yakin tidak perah melihat orang ini”
“Benarkah? Hmm.. Baiklah. Terimakasih ya bi”
Tanpa
putus asa Jimin mencoba bertanya kembali ke semua orang yang ada di sekitar
gedung tersebut. Namun, hasilnya sama.. Ia tetap tidak mendapat informasi
apapun. Dirasakannya sinar terik matahari hampir membakar kulitnya. Dengan
berat hati iapun memutuskan untuk menghentikan pencariannya di tempat tersebut.
***
Jimin POV
Seperti biasa, setelah lelah
berkeliling seharian aku pergi ke taman untuk mengistirahatkan diri. Akupun
membeli secangkir es cappuchino untuk sekedar menghilangkan rasa hausku.
Kujangkau sebuahkursi yang ada disana. Seketika rasa penatku hilang saat aku
duduk disini. Tempat ini adalah tempat paling menyenangkan yang sering
kudatangi.
Tiba-tiba
dari kejauhan terlihat seorang laki-laki sedang berjalan ke arahku.
“Hei!”, panggilnya sambil melambaian tangan ke arahku.
Astaga... Pria konyol itu.. Untuk apa dia
datang kemari? Bukannya urusanku dengannya sudah selesai?
“Ada apa? Bukannya urusan kita sudah selesai?”
“Hmm.. Iya.. Aku hanya ingin melihatmu”
A-apa? Dia ingin melihatku? Benar-benar
konyol!
“Hmm.. Sekarang kau sudah melihatku, kan? Pergilah!”
“Tidak mau. Aku akan pergi setelah aku mendapat alasannya”
“Baiklah.. Kalau kau tidak mau pergi biar aku yang akan
pergi”, ucapku lalu melangkahkan kakiku.
“T-tunggu!”
Tanpa
menghiraukannya, aku tetap bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
***
Dasar! Pria Konyol!!! Sampai kapan ia akan
terus mengikitiku seperti ini?
“Hei, sebenarnya apa maumu, hah?”
“Jadilah temanku”
“Apa? Teman? Jangan bercanda..”
“ Baiklah, kalau begitu aku akan terus mengikutimu”
Heeh.. Benar-benar menyebalkan!
“Hmm.. Baiklah.. Kita berteman”
Sambil
menghela napas aku melangkahkan kakiku kembali menuju ke sebuah kursi. Tanpa
rasa takut, dengan berani ia duduk di sampingku.
“Apa kau tak takut denganku, hah?”
“Tidak”
“Kenapa? Bukannya orag sepertiku biasanya suka memeras oran
sepertimu?”
“Iya, aku tahu. Tapi untukmu sepertinya tidak mungkin”
“Hmm.. Terserah padamu saja”
“Siapa namamu?”
“Untuk apa kau tahu namaku?”
“Aiss.. Kau galak sekali.. Aku hanya ingin tahu siapa
namamu”
“Itu bukan urusanmu!”
“Tidak. Ini urusanku. Kau harus tanggun jawab padaku!”
“Hah? Tanggung jawab? Kau mabuk, ya? Sejak kapan aku berbuat
macam-macam padamu?”
“Sejak kau mengambil es krim di sudut bibirku”
Hah? Pria ini benar-benar tidak ada rasa
takut. Berani-beraninya dia berkata seperti itu.
“Kau gila, hah?” Dengan marah kuacungkan tanganku bersiap
akan memukulnya.
Dasar pria bodoh! Kenapa diam saja? Aiss...
“Hmm.. Namaku Lee Jimin”, ucapku menyerah lalu menurunkan
tanganku.”Lee Jimin.. Hmm.. Nama yang bagus”
“Kau benar-benar ingin kupukul, hah?”
“T-tidak. Jangan pukul aku, Minie”
“Jangan panggila aku Minnie!”
“Iya, Jimin”
Hmm.. Benar-benar orang itu.. Sydah berapa
kali kuancam tapi masih saja mendekatiku. Mau-maunya duduk di sampingku terus
seperti ini. Dasar aneh!
“Hmm.. Sudah waktunya aku pulang”
“Apa? Pulang? Orang sepertimu ternyata bisa juga pulang
cepat”
“Kau mau kupukul, hah?”
“Tidak, Minie. Aku hanya bercanda”
“Berhenti”, ucapku kembali mengacungkan tanganku”
“I-iya, Jimin. Baiklah.. Sampai jumpa lagi! Terimakasih
untuk hari ini”
Terimakasih? Hah, dasar aneh!
Tanpa
menghiraukannya ak bergegas pergi pulang ke rumah.
@Jimin House
Author POV
Bulanpun
menyapa, bertanda malam telah tiba. Dari luar jendela terlihat satu per satu
daun mulai berguguran. Udara dingin yangmasuk dari celah-celah rumah mulai
mengalir di seluruh tubuh. Tangan Jimin terulur untuk meraih sebuah cangir yang
ada di dalam lemari. Ditambahkannya sesendok kopi bubuk dan dua sendok gula
pasir lalu dituangkannya air hangat ke dalam cangkir. Uap panas dari secangkir
kopi memberi kehangatan di tubuh Jimin. Perlahan ia berjalan dan duduk di atas
kursi.
“Klek”
Tiba-tiba pintu rumah terbuka.
Jihyukpun masuk dan duduk di samping Jimin. Bibirnya gemetar bersama dengan uap
yang berhembus dari mulutnya.
“Oppa kedinginan?”, tanya Jimin khawatir.
“Hi-hiya”
Dengan
wajah tanpa dosa Jihyuk meraih secangkir kopi yang Jimin pegang lalu habis
meminumnya.
Dengan
cepat Jimin mengambil bsebuah baju tebal dan bergegas menghangatkan air.
“Ini”, ucap Jimin sambil memberikan baju tebal tersebut
kepada kakaknya.
“Terimakasih, Jimin kecilku”, ucap Jihyuk sambil mengelus
lembut rambut Jimin.
“Berhenti memanggilku Jimin kecil! Aku sedah besar, kau tah
kan?!” , ucap Jimin sambil menghempaskan tangan kakaknya.
“Aiss.. Kau kasar sekali.. Hmm.. Duduklah. Ada yang indin
oppa ceritakan padamu”
“Hmm?”
“Tadi ada yang menelepon oppa. Dia bilang dia sepertinya
mengenali ciri-ciri pembunuh itu”
“Benarkah? Dia tinggal dimana?”
”Di sekitar gedung tempat pestamu dulu”
“Oh iya.. Waktu itu aku berpesan ke semua orang disekitar
situ untuk menghubungiku”
“Hmm.. Kalau begitu, datanglah kesana besok, ya”
“Iya.. Aku akan kesana. Lalu, apa rencana oppa?”
“Oppa akan bertanya pada teman-teman ayah yang menghadiri
pesta tersebut”
“Baiklah. Sebentar lagi kita akan menangkap pelaku itu..”
***
Esok harinya...
Jimin POV
Dengan tidak sabar, aku bergegas
pergi menuju tempat kejadian itu lagi. Kulihat satu per satu rumah yang ada di
sekitar sana. Mataku menangkap sebuah bangnan dengan nomor yang sama dengan
nomor yang tertera di kertas alamat yang kupegang. Dengan cepat aku
menandatangani rumah tersebut.
“Tok tok”
“Iya?”, ucap seorang wanita
paruh baya sambil membuka pintu.
“Bibi yang kemarin menelepon ke nomorku, kan?”
“Oh, iya iya. Silahkan duduk”
“Bi, apa bibi benar-benar tahu dengan orang ini?”, ucapku
sambil menunjukka sebuah foto padanya.
“Hah? Ternyata orangnya seperti ini? Kalau begini bibi tidak
lihat”
“A-apa maksud bibi?”
“Waktu itu bibi juga melihat orang aneh berjalan di sekitar
gedung itu. Tapi, tidak dengan penampilan mewah seperti ini. Dia bahkan lebih
terlihat seperti seorang preman”
“Apa? Jadi.. Bibi tidak melihatnya?”
“Iya.. Maaf ya...”
“Iya”
Seketika
hatiku seperti akan terjatuh. Denga langkah gontai aku melangkah pergi
mennggalkan tempat itu.
“Ayah.. Hiks”
Perlahan
air mataku mengalir membasahi pipiku. Benar-benar menyakitkan... Harus berapa
lama lagi aku mencarinyaaa?
Hatiku
menuntunku menuju ke taman kota. Mungkin aku perlu menjernihkan pikiranku dulu.
Kubeli secangkir es cappuchino lalu duduk di sebuah kursi yang biasa kutempati.
Dari
kejauhan terlihat pria konyol itu sedang berjalan ke arahku.
“Mini!”, panggilnya sambil melambaikan tangan.
Benar-benar orang itu.. sepertinya dia mau
kupukul dulu baru pergi.
“Sampai kapan kau akan terus datang kesini, hah?”
“Sampai aku... Eh, kau habis menangis?”
“Tidak! Jangan sentuh aku!”
Tanpa
rasa takut ia duduk disampingku.
“Baiklah. Aku akan menghiburmu”
“Tidak perlu. Aku tak butuh hiburamu!”
“Kau yakin? Mau taruhan denganku? Jika aku bisa membuatmu
tertawa kau harus penuhi perintahku, ok?”
Apa? Pria konyol ini mau menantangku? Hahaha..
Tidak mungkin!
“Baiklah. Kau pasti akan ikuti perintahku”
“Hmm.. Coba tebak! Bentuknya kecil, warnanya hitam, kalau
disentuh dia bisa memukul. Apa itu?”
“Siapa dia? Apa dia juga berani memukulku”
“Hmm.. Mungkin”
“Siapa? Tidak tahu”
“Kotoran lalat milik preman”
“Bah, jadi maksudmu kau mau menyentuh kotoran lalat preman
waktu itu, hah?”
“Boleh jadi”
“Humph” Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menahan
tawa.
“Kau tertawa, kan?”
“Ti... Dak..”, ucapku sambil mengerucutkan bibirku.
“Baiklah.. Sekali lagi.. Kau pasti tertawa”
“Siapa takut? Coba saja kau pasti gagal”
“Hmm.. Warna putih, hitam, hijau. Apa itu”
“Hmm.. Lampu lalu lintas!”
“Heeh.. Itu merah, kuning, hijau, bodoh!”
“Mm.. iya.. Maksudku itu..”
“Heeh.. Dasar! Jadi apa?”
“Tidak tahu”
“Jimin sedang pup di atas rumput”
“Bah? Kau pikir aku tukang pup? Hahahahaha”
“Kau tertawa, kan?”
“Ti-tidak.. Hahahahaha”
“Syukurlah.. Emm, kau harus penuhi perintahku!”
“A-apa?”
“Kau harus terima jika kupanggil Minie”
“Tidak mau! Panggilan konyol!”
“Hey, itu nama yang lucu..”
“Tidak!”
“Minie..”
“Berhentilah..”
“Minie <3”
“Berhenti memanggilku Minie!”
Dengan
kesal kulempar satu sepatuku ke arahnya. Sambil menyengir kuda ia bergegas
pergi melarikan diri.
“Hhhhh”, desahku panjang setelah berhasil menangkapnya.
“Minie, ayo kita jalan kesana”, ajaknya sambil menarik
tanganku.
Kamipun
melanjutkan kembali perjalanan kami di sekitar taman itu.
“Hei, kenapa mereka melihati kita seperti itu?”
“Karena kau unik”
“Kau mengejek, hah?”
“Tidak.. Hanya bercanda”
Tiba-tiba
datang segerombolan anak berjalan ke arah kami. Terlihat seorang anak sedang
mengarahkan sebuah pistol air ke salah satu anak lainnya. Seketika kejadian
penembakan itu kembali menghantuiku.
“Haaaaa!!!”, jeritku ketakutan.
“Ada apa Jimin?”, taya pria konyol itu cemas sambil
memelukku.
“Baiklah.. Ayo kita pergi dari sini”
Perlahan
dia menuntunku menuju ke sebuah kursi.
“Ceritakan padaku apa yang terjadi”
“Pistol itu yang membunuh ayah..”, ucapku tanpa sadar.
“Itu hanya pistol mainan.. Sudahlah.. Jangan pikirkan itu
lagi, ya?”, ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.
“Dag.. Dig.. Dug..” Kenapa jantungku jadi seperti ini?
Dia.. Hangat.. Seperti ayah dan kakak. Entah mengapa... Rasa cemasku
seketika hilang saat bersamanya..
The Black Point Shoot 2 Part 1 - End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar